admin@sma.alazharmandiri.sch.id +62-8229-3377-730

Hasan Bahasyuan, Maestro

Hasan Bahasyuan, Maestro

Sulawesi Tengah dengan Segudang Karya

Oleh: Annisa Zahra

‘Naratamo ntempo mpomonte..

Kamaimo, kamaimo‚Ķ 

Yakumo tadulako pomonte’

(Masa panen sudah tiba..

Kemarilah, kemarilah..

Saya adalah pemimpin untuk proses panen ini)

Syair pun terdengar dan tak lama, tadulako (pemimpin) datang menyambut tamu yang menunggu setelah disambut dengan gerak gemulai para penari. Tadulako melakukan netabe kepada para penonton untuk menghormati mereka. Para penari melanjutkan tari mereka sesuai iringan, lengkap dengan toru (tudung) dan salenda (selendang) . Dimulai dengan momonte  yaitu memetik padi, lalu manggeni pae ri sapo atau membawa padi kerumahkemudian manggeni pae ri nonju berartikan membawa padi ke lesung, setelah itu mombayu pae (menumbuk padi) , moseni (menapis), hingga manggeni ose,  dimana padi berubah menjadi beras. Berakhir dengan raego mpae sebagai ucapan syukur atas hasil panen.

Gerak gemulai mulai menyatu dengan lagu, tersusun dengan rapih, sesuai dengan gerakan asli panen padi (pamonte). Tak lupa dengan properti alu untuk menumbuk padi, bingga sebagai bakul, dan pae atau padi. Walaupun, seiring berjalannya waktu properti tersebut sudah jarang digunakan.

Namun siapa sangka, tarian sederhana yang terinspirasi dari petani ini menciptakan rekor nasional, bahkan ditampilkan hingga mancanegara. Rekor-rekor dan berbagai prestasi tercipta, mengharumkan nama Provinsi Sulawesi Tengah dengan penciptanya yang merupakan putra asli Sulawesi Tengah, Hasan Bahasyuan.

Hasan Muhammad Bahasyuan, atau yang akrab dipanggil Hasan Bahasyuan adalah maestro seni kebanggaan Provinsi Sulawesi Tengah. Lahir di Kota Parigi, 12 Januari 1930 yang besar di keluarga sederhana dengan jiwa seni yang tinggi. Tak heran, beliau tumbuh dengan bibit berkesenian yang tinggi pula dan akan terus tumbuh.

Jiwa seni itu tumbuh, dan membuahkan hasil. Terbukti dari puluhan karya yang diciptakan oleh beliau semasa hidupnya. Seperti lagu dan tari pomonte, begitupun dengan pontanu, tari pajoge, peulu cinde, dan berbagai tarian lainnya. Dan juga puluhan lagu yang diciptakan olehnya, seperti Tananggu Kaili, Palu Ngataku, Posisani, dan lain-lain yang tak pernah dilupakan oleh masyarakat Sulawesi Tengah. Bahkan, karya-karya beliau menjadi ikon Provinsi Sulawesi Tengah.

Tak sedikit pula, beliau menciptakan lagu dan tarian dari daerah lain yang bukan sukunya. Salah satunya ialah Putri Balantak, ciptaan Hasan Bahasyuan untuk tanah Luwuk. “Daerah Banggai ditongkrongi sama beliau untuk meriset. Dan jadilah hasilnya 2 buah lagu yaitu Putri Balantak dan Banggai Tana Monondok” Kata Syaiful Bahri, putra semata wayang Hasan Bahasyuan.

Bahkan kakula nuada alat musik tradisional yang berasal dari Sulawesi Tengah, yang sebelumnya adalah alat musik yang tradisional dimodifikasi oleh beliau menjadi kakula yang lebih modern. Kakula yang sebelumnya hanya bisa mengiringi beberapa tari dan lagu, sekarang menjadi alat musik harmonis yang sempurna. Beliau memodifikasi kakula dengan tujuan agar bisa mengiringi lagu dan tarian lebih banyak lagi. “Bahkan lagu Michael Jackson pun dapat diiringi menggunakan Kakula” Sahut Syaiful Bahri. Beliau melakukan cuning di Bogor, untuk mendapatkan nada solmisasi yang benar. Kakula tradisional akhirnya menjadi kakula modern, yang umumnya berjumlah 7, 14, bahkan 21 buah tergantung kebutuhan lagu dan tari yang akan dibawakan. Tak heran, beliau disebut sebagai maestro Sulawesi Tengah.

Karyanya, yaitu tari pomonte menciptakan banyak prestasi yang mengharumkan provinsi Sulawesi Tengah. Tari ini sudah mencetak beragam rekor, bahkan sudah ditampilkan di dalam maupun luar negeri. Seperti pernah ditampilkan pada Pembukaan ASEAN Games di Jakarta oleh 200 penari, dan mencetak rekor MURI di tahun 2011 sebagai jumlah penari terbanyak yaitu berjumlah 5460 penari. Dan juga lagu-lagu yang diciptakan oleh beliau sudah menjadi identitas Sulawesi Tengah. Tak lupa, memodifikasi Kakula Nuada menjadi salah satu kontribusi terbesar beliau dalam bidang kesenian.

Keresahan beliau dalam berkesenian adalah kebudayaan daerah yang surut akibat perkembangan zaman. Hal ini membuat beliau untuk melakukan eksplorasi dan menggali kebudayaan dari tiap suku di Provinsi Sulaweai Tengah, dan akhirnya menjadi sebuah karya dan identitas dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah.

Keinginan beliau berkesenian telah diwujudkan sejak masih duduk di sekolah rakyat pada tahun 1939, beliau telah memimpin sebuah kelompok Musik Bambu di Parigi sebagai pemain suling pendek sampai di era pendudukan jepang. Setelah kemerdekaan yang menghambat kegiatan berkesenian beliau, pada tahun 1946 beliau bergabung dengan sebuah grup Hawaian Band sebagai penyanyi dan pemain ukulele. Pada tahun 1950-an beliau sempat menjadi Atlet lari jarak tengah. Dan juga, beliau sudah mendirikan serta memimpin orkes keroncong “Irama Seni” sebagai penyanyi dan pemain biola dari tahun 1947-1963.

Pada tahun 1965, beliau hijrah ke Palu untuk menjadi pelatih dan pemimpin Band Nada Anda yang kemudian berganti nama menjadi Band Risela sampai tahun 1970 ditemani sang istri Ellya Bahasyuan yang menemani beliau selama berkesenian dan juga menciptakan kostum yang dipakai oleh penari. Pada awal tahun 1971 sampai dengan 1981 beliau mulai aktif sebagai pelatih tari daerah se-Sulawrsi Tengah dan sebagai pemimpin serta pelatih Band Ananta.  Beliau meninggal pada tanggal 22 Mei 1987, yang meninggalkan seorang istri yaitu Ellya Bahasyuan dan seorang putra yaitu Syaiful Bahri Bahasyuan. Dan hingga akhir hayatnya, beliau tidak pernah berhenti melakukan kegiatan kesenian.

Untuk mengenang beliau, Syaiful Bahri mendirikan HBI atau Hasan Bahasyuan Institute. HBI adalah sebuah lembaga studi budaya dan penciptaan karya seni yang didirikan dengan akte notaris no. 19 tahun 2008 pada tanggal 4 September 2008 dan diresmikan pada tanggal 2 Mei 2009. HBI terinspirasi dari kerja hasan bahasyuan dalam menciptakan karya seni dan melanjutkan apa yang telah beliau rintis agar tidak hilang dimakan waktu. Institut non-pemerintahan ini didirikan sebagai bentuk apresiasi kepada upaya-upaya para seniman, budayawan dan pekerja budaya sebagai masyarakat yang memajukan kebudayaan baik secara lokal, nasional, maupun global.

Banyak hal yang sudah dilakukan oleh Hasan Bahasyuan Institute untuk mengenang karya Hasan Bahasyuan, salah satunya dengan mengadakan Artibute to Hasan Bahasyuan di Palu dan di tanah kelahiran beliau, Parigi. Sehingga karya beliau tak pernah hilang karena waktu dan hingga sekarang, kita masih bisa melihat dan mendengar karya beliau. Untuk itu sebagai anak muda dan penerus bangsa, kita juga patut untuk menjaga karya beliau agar tidak dilupakan masyarakat dan selalu dikenang sepanjang masa. Dan jika memiliki minat dan bakat, jangan menyerah untuk mengembangkan bakat tersebut. Bisa jadi, suatu saat nanti kita akan menjadi Hasan Bahasyuan yang baru untuk daerah kita masing-masing.

Leave a Reply